Tampilkan postingan dengan label Before Happiness. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Before Happiness. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juli 2014

Bagian yang Hilang dari #BeforeHappiness

Ini merupakan bagian yang terhapus dari novel Before Happiness pada revisi keenam kalau tidak salah (dari delapan kali revisi). Aku sempat ingin mempertahankannya karena di sini chesmistry Happy dan Gerald dimulai. Tapi editor meminta untuk dihilangkan. So, baca aja bagi yang #TeamGerald :)

BAB 5


Pagi-pagi sekali Bunda membangunkaku dengan sangat bersemangat. Aku pikir ini sudah masuk Senin pagi yang menyebalkan, tapi ternyata masih hari Minggu. Dan pertanyaan paling urgent: kenapa Bunda mengganggu hari indahku?
            “Bangun, Happy, matahari bersinar cerah,” kata Bunda dengan senyum mengembang sambil meliuk-liukan spatula seolah aku peduli dengan matahari bersinar cerah.
            “Bunda ngapain sih? Kan aku uda bilang kalau hari Minggu biarin aku males-malesan di kamar,” keluhku seraya kembali bergelung di bawah selimut yang hangat. Melihat tingkahku, Bunda buru-buru menarik selimut motif polkadot itu hingga aku terpaksa bangun.

Minggu, 11 Mei 2014

Before Happiness #3: Membuat Pangeran Impian Untuk Tokoh Utama


Dalam menulis novel cinta-cintaan, setiap penulis pasti akan memikirkan seperti apa pangeran dan putri impian untuk tokoh utama mereka. Saat menulis naskah Before Happiness, aku menyiapkan pangeran impian bernama Sadha Anugerah. Panggil saja dia Sadha. 

Awalnya aku agak kesulitan bagaimana menghidupkan sosok ini dalam bentuk aksara. Aku tidak akan mendeskripsikan dia tampan dan berbadan bagus karena itu sudah jaminan mainstream dalam genre ini. Maka aku menulis dia tampan dengan rambut semi mohawk, wajah Arabic, berbadan kurus, memiliki suara tawa renyah yang pada akhirnya membuat tokoh utama wanita bernama Happy memujanya karena dia adalah Sadha, pangeran dalam hatinya. 

Sadha adalah seorang produser film muda, dia tipe cowok calm dan akan melakukan apapun untuk orang yang dia cintai. Sudah tergambar seperti apa dia? 

Dalam salah satu dialog di awal cerita, karakter pendukung bernama Ratih menyebut Sadha mirip dengan Zayn Malik versinya. “Dia mirip Zayn Malik, Mbak. Ganteng pokoke,” kata Ratih pada Happy dengan gayanya yang medok. 

Ya, pembaca tentu butuh fantasi mereka semakin diliarkan. Maka aku menyebut saja sosok Zayn meski aku tidak terlalu tahu siapa dia selain fakta bahwa Zayn adalah personel One Direction. Namun tentu saja, Happy tidak menyukai Sadha semata-mata karena dia tampan atau hal remeh temeh seperti itu. Aku menambahkan alasan krusial yang membuat kenapa Happy begitu jatuh pada sosok yang menjadi cinta pertamanya ini. Alasan yang membuat hidupnya tidak lagi sama.

Before Happiness adalah kisah tentang cinta pertama yang mungkin kamu alami. Tapi, bagaimana bila cinta itu membuatmu tersakiti karena tak pernah diungkapkan? 

Senin, 28 April 2014

Before Happiness #2: Suka Duka Proses Penyuntingan



Kira-kira awal Februari 2014 manuskrip awal Before Happiness memulai proses penyuntingan. Hal pertama yang diminta oleh editorku, Dedik Priyanto, adalah: meminimalisir penggunaan bahasa Inggris baik dalam dialog maupun narasi.

Kami sempat berdebat saat itu karena aku memilih mempertahankan walau dia keukeuh harus diubah. "Mending kamu sekalian bikin full bahasa Inggris saja," katanya saat itu. Karena sudah excited mau diterbitin, aku akhirnya setuju saja. Toh, demi kebaikan naskahku juga.

Jadi awalnya ada salah satu karakter pendukung yang aku buat demen ngomong Indonesia-Inggris (tapi tidak se-annoying Cinta Laura, FYI aja). Namun karena jadi aneh bila dialih-bahasakan dengan background karakter awal yang seorang gadis keturunan, aku mengubah karakter tersebut menjadi sosok asli Indonesia.

Setelah proses meng-Indonesia-kan usai, kami memulai penyuntingan naskah. Aku lupa seperti apa detailnya, tapi banyak banget bagian yang dibuang dan diganti, dibuang lagi diganti lagi, dengan deadline yang kilat. Setelah ada kira-kira 8 kali revisi, akhirnya naskah dirasakan tuntas. *bernapas lega*


He's my editor: Dedik Priyanto, saat makan siang sambil ngobrolin perubahan-perubahan pada naskah 


Dalam proses 8 kali revisi itu, editorku yang rambutnya mirip Rangga di Ada Apa Dengan Cinta?, memintaku membuat naskah ini lebih drama dan emosional. Karena katanya, naskah berpotensi untuk bisa lebih mengaduk emosi pembaca. Setelah ngobrol ngalor ngidul, bertukar ide, sempat disuruh baca salah satu novel Windry Ramadhina dan baca cerpen Puthut EA, akhirnya aku tahu ke mana harus mengarahkan sisi sentimentil dari karakter utama yang tercipta.

Dampak dari perubahan-perubahan itu adalah masuknya bagian yang rencananya ada di sekuel; yakni setting Bangkok. Beruntung meski belum pernah ke sana, aku dibantu oleh teman yang mau-maunya direcoki malam-malam soal Bangkok dan sekitarnya. Dan setelah aku baca-baca lagi, naskahku memang menjadi lebih manis dan bikin galau. Seriously, aku sangat berterima kasih karena Mas Dedik jeli dalam membangun kekurangan naskahku, mengembangkan potensi karakter Happy menjadi lebih pedih, mengembangkan cerita supaya lebih drama namun tak over.



Ini saat pertemuan pertama membahas kekurangan naskah
Usai revisi naskah itu, kami dibingungkan oleh pemilihan judul. Awalnya aku memakai judul One Little Thing Called You, tapi selama proses revisi diganti jadi Adore You yang akhirnya diganti lagi menjadi Before Happiness. Bocoran saja, saat rapat redaksi sempat diusulkan judul Cinta Keras Kepala namun Before Happiness yang akhirnya menang karena terdengar manis ketika diucapkan.

Oiya, kami juga sempat berdebat saat revisi akhir sampai-sampai Mas Dedik bilang: "Kalau kamu nggak nurut silakan cari editor lain". Padahal kalau diibaratkan seperti proses download film, saat itu filenya sudah 85% *ups, ketahuan sering unduh film*

Beruntung akhirnya semua selesai. Hanya tinggal menunggu proses setting dan pembuatan cover. Ya, ternyata beginilah proses revisi novel sebelum naik cetak itu. Ada dua kepala bertemu dan mereka harus saling memahami naskah agar layak dibaca begitu diedarkan.


Penampakan manuskrip awal saat dikirim ke penerbit

Selasa, 22 April 2014

Before Happiness #1: Menciptakan Karakter Happy


Before Happiness adalah novel debutku. Saat tahu manuskrip ini dinyatakan layak untuk diterbitkan, tak ada kata selain: 'terima kasih Tuhan' dan 'akhirnya impian ini menjadi nyata' kuucap berkali-kali.

Aku ingat benar mulai menulis kisah Happy, karakter utama dalam novel ini, pada 2 Oktober 2013 dan selesai satu bulan kemudian. Seperti standar penerbit lainnya, aku harus menunggu tiga bulan untuk tahu apakah naskah layak terbit atau sebaliknya.

Kisah Happy ini sudah mengendap di kepala sejak lama. Lantaran merasa belum matang dan siap, aku membiarkannya plotnya tertulis di kertas lecek tempatku biasa menyimpan ide-ide. Baru pada akhir September 2013, entah dapat ilham darimana, aku memutuskan untuk menuliskannya.

Aku membuka contekan plot tersebut, melamun sebentar dan mulai menulis bab 1 yang butuh waktu 1 hari sendiri. Dalam satu hari pertama itu aku terus mengetik-membaca-menghapus karena merasa kurang sreg dengan pembukanya. Seperti sudah tersugesti, aku memang memiliki semacam kebiasaan menulis bab 1 dengan semenarik mungkin untuk mengiring siapapun bakal membuka halaman selanjutnya. Jika tidak menarik, aku merasa tak percaya diri untuk melanjutkan.

Maka begitu bab 1 kelar, aku tak memiliki beban dalam menulis bab-bab selanjutnya. Semuanya mengalir begitu saja meski diselingi dengan rehat beberapa hari karena faktor kerjaan yang tak memungkinkan memaksa mata terus melotot di depan laptop.

Ngomong-ngomong soal nama Happy, aku memilih nama tersebut bukan tanpa alasan. Karena ini berkaitan dengan garis takdir Happy sepanjang novelnya.

Nama Happy sendiri aku ambil dari nama saudara perempuanku. Karena kedekatanku dengan dia, aku memutuskan mentransformasi sikapnya yang kekanakan dalam novel ini. Jadi aku bisa membayangkan bagaimana Happy ketika dia mulai bertingkah abnormal seabnormal saudaraku itu.

Namun pada pertengahan jalan, saat sedang menunggu busway sepulang screening film di EX, aku menemukan karakter fisik Happy pada mbak-mbak cantik bertubuh mungil, berambut pendek messy, yang aku lihat berdiri di tengah antrean dengan tangan lentik sibuk 'memerkosa' androidnya. Begitu sampai kost, aku langsung membuka laptop, mengganti bagian-bagian fisik Happy supaya pas dengan deskripsi mbak tadi.

By the way, terima kasih pada mbak-mbak di busway pada hari itu. Siapa pun kamu :)

Setelah novel jadi, aku menemukan kemiripan mbak-mbak di busway dengan sosok Sheryl Shainafia. Kebetulan Happy juga gemar menyanyi di kamar mandi :D

Shery Sheinafia